Senin, 07 Juli 2014

F16 TNI AU melaksanakan agenda rutin tahunan pengamanan Ibu Kota.


 Masyarakat Jakarta dikejutkan dengan pesawat F16 yang berseliweran sehingga menghasilkan suara gemuruh pada Senin (7/7/2014) siang. Apa yang sebenarnya terjadi?


Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Madya TNI Hadi Tjahjanto meminta masyarakat Ibu Kota tidak perlu khawatir atas manuver pesawat tersebut. "Kondisi Jakarta aman dan terkendali. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Harusnya senang, ya, ada pesawat begitu," ujar Hadi saat dihubungi Kompas.com, Senin siang.


Hadi menyebutkan, saat ini sejumlah personel TNI AU tengah melaksanakan agenda rutin tahunan pengamanan Ibu Kota. Ada lima unit pesawat F16 yang diterbangkan sekaligus bermanuver di langit Jakarta. Setidaknya, ada dua unit pesawat F16 yang terbang tiga kali di atas kawasan Senayan, Jakarta Pusat, kira-kira pukul 14.00 hingga 15.00. Suara pesawat terdengar bergemuruh kencang.


"Biasanya kita lakukan apabila ada pesawat asing yang masuk tanpa izin ke wilayah Ibu Kota, pesawat F16 untuk mengantisipasi itu," kata Hadi.


Hadi memastikan, aksi itu bukan dilaksanakan lantaran menjelang pemilihan presiden. Menurut Hadi, agenda pengamanan Ibu Kota itu kebetulan saja bertepatan dengan menjelang Pemilu Presiden 9 Juli 2014.




Sumber : Kompas

Sabtu, 05 Juli 2014

KRI Bung Tomo Class Siap Bertolak Ke Indonesia


KRI Usman Harun (straitstimes.com)
KRI Bung Tomo Class

 3 kapal perusak ringan (light frigate): KRI Bung Tomo, KRI John Lie, dan KRI Usman Harun ditargetkan hadir di Indonesia sebelum 5 Oktober 2014. Tiga KRI yang sudah berbulan-bulan diproses dan difinalisasi di galangan kapal di Barrow in Furness, sekitar 150 KM dari Kota Manchester, Inggris sudah siap untuk dibawa ke Indonesia dalam waktu dekat.


“Ketiga kapal diusahakan akan tiba di Indonesia sebelum Oktober,” kata Kepala Badan Perencanaan Pertahanan (Kabaranahan) Kementerian Pertahanan, Laksda TNI Rachmad Lubis kepada detikcom Jumat (27/6/2014) di Paris seusai memantau progres pembuatan alutsista di tiga negara, yaitu Jerman, Prancis, dan Inggris.


Laksda TNI Rachmat Lubis memimpin delegasi high level committee (HLC) ke tiga negara tersebut untuk memastikan pesanan alutsista itu sesuai spesifikasi yang telah disepakati dan memastikan jadwal penyelesaiannya. Ia telah meninjau proses pembuatan 3 KRI di Barrow in Furness Selasa (24/6/2014) lalu.


KRI Bung Tomo (TOM) sudah siap 100 persen dan sudah diujicobakan di laut. Sedangkan KRI John Li (JOL) sudah siap 100 persen dan sedang akan diujicobakan di laut. “Sedangkan KRI Usman Harun dalam tahap finalisasi,” kata Laksda Lubis.


Saat ini pemerintah Indonesia dan produsen kapal sedang membahas mengenai serah terima kapal. Direncanakan serah terima kapal akan dilakukan di Barrow in Furness pada akhir Juli 2014. Dalam proses serah terima itu, sesuai prosedur selama ini, akan juga dilakukan peresmian pemberian nama tiga kapal itu, yaitu KRI Bung Tomo, KRI John Lie, dan KRI Usman Harun.


Nama kapal terakhir sempat diprotes Singapura, karena negeri jiran itu menganggap Usman dan Harun adalah teroris yang merupakan pelaku pemboman di Singapura pada tahun 1960-an. Namun, pemerintah tetap bersikukuh dengan nama itu, karena Usman dan Harun merupakan prajurit Marinir TNI AL yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia.


Uji Tembakan KRI Bung Tomo Class
 

Rencananya, setelah serah terima tiga KRI ini, akan dilakukan pengujian penembakan. Kapal ini dilengkapi radar sensor dan avionik, serta beberapa pucuk meriam berkaliber sedang dan beberapa rudal. Setelah ujicoba, tiga KRI ini juga akan langsung dibawa oleh para prajurit Indonesia mengarungi samudera. Tiap kapal akan diawaki sekitar 81 prajurit. Karena itu, TNI AL akan segera memberangkatkan para prajuritnya ke Manchester untuk pengenalan kapal dan training.


Ketiga KRI ini merupakan kapal perusak, namun bertipe multi role light frigate (MRLF), yaitu sejenis kapal perusak ringan, yang memiliki bobot 2.000 ton dan jangkauan tembakan tidak terlalu jauh. Kapal ini memang bukan kapal baru, tapi kapal bekas yang kemudian diupgrade teknologi dan sistem peluru kendalinya.


“Kapal ini memang bekas, tapi tidak pernah digunakan untuk operasi, hanya pemanasan mesin aja,” kata Lubis. Untuk membeli 3 KRI ini, Indonesia menggelontorkan uang US$ 385 juta (sekitar Rp 4 triliun). Proses upgrade kapal memerlukan 1,5 tahun, dimulai setelah kesepakatan ditandatangani awal Januari 2013 lalu.

Tiga kapal ini sebelum sempat akan dibeli Brunei Darussalam. Namun Brunei membatalkan pembelian karena kapal terlalu besar untuk negara sekecil Brunei. Akhirnya kapal ini ditawarkan ke Indonesia dan terjadi kesepakatan harga yang cukup murah. Beberapa waktu silam Menhan Purnomo Yusgiantoro sempat mengatakan deal harga US$ 385 juta itu merupakan 20 persen dari harga yang ditawarkan ke Brunei. 



Sumber : Detik

Indonesia Mulai Produksi Kapal Selam 2015



JAKARTA-(IDB) : Indonesia dan Korea Selatan saat ini sedang mengembangkan jet tempur generasi 4.5. Pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tidak berhenti di situ. Awal 2015 nanti, Indonesia memulai pembuatan kapal selam versi lokal.

Pengembangan kapal selam ini ini dilakukan di area galangan kapal milik PT PAL (Persero) di Surabaya Jawa Timur.

"Kapal ke-3 dibangun di PAL. Harusnya November 2014, tapi akhirnya jadi awal 2015 mulai membangun, karena persiapan penyediaan fasilitas kapal selama ada sedikit kendala," kata

Demikian Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (30/6/2014).

Pengembangan kapal selam tersebut merupakan bagian kontrak pembelian 3 unit kapal selam. Sebanyak 2 unit kapal selam sedang diproduksi di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korea Selatan, sedangkan 1 unit lagi dibuat di Indonesia. Kapal yang diproduksi adalah tipe DSME 209.

"Desain masih gunakan Korea punya tapi ada alih teknologi ke SDM Indonesia agar kapal selama yang kita miliki sesuai kondisi perairan Indonesia," sebutnya.

Setelah pengembangan di Indonesia dimulai, pemerintah Indonesia berencana mengembangkan 3 unit kapal selam baru pada fasilitas milik PAL setiap 5 tahun.

"Di dalam renstra akan dibangun 3 unit. Renstra 2014-2019 akan dibangun 3 lagi dan sedang menunggu persetujuan," tegasnya.



Sumber : Detik

PT PAL Luncurkan Kapal Cepat Rudal Ketiga




Kapal Cepat Rudal ketiga buatan PT PAL (photo : Kelana Kota)

PT PAL Rampungkan Pembangunan Kapal Cepat Rudal

suarasurabaya.net - PT PAL Indonesia kembali rampungkan sebuah kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter. Kapal ini melengkapi dua kapal sebelumnya yang juga telah rampung dibangun. Bahkan satu KCR 60 meter juga telah diserah terimakan ke TNI Angkatan Laut pada 28 Juni 2014 dan diberi nama KRI Sampari.

Untuk Kapal kedua, saat ini dalam tahap uji coba dan diberinama KRI Tombak, sementara kapal ke-tiga yang bernama KRI Halasan, Jumat (4/7/2014) secara resmi diluncurkan menandai rampungnya pembuatan. Peluncuran ditandai dengan memasukkan kapal untuk pertama kalinya ke lautan yang berada di Dermaga Ujung, PT PAL Surabaya.

Peluncuran kapal ke-tiga kali ini dilakukan oleh jajaran Dewan Komisaris PT PAL dan jajaran petinggi TNI AL. "Setelah hari ini peluncuran, mungkin bulan depan KCR ini juga kami serah terimakan," kata Syaiful Anwar, Direktur Desain dan Teknologi PT PAL.


KCR-60 KRI Halasan 630 (photo : Suara Surabaya)

KCR 60 meter produksi PT PAL ini memiliki spesifikasi :
- Panjang keseluruhan (LOA) : 60 M
- Panjang garis air (LWL) : 54.82 M
- Lebar (B) : 8.10 M
- Tinggi pada tengah kapal (T) : 4.85 M
- Berat muatan penuh (Displacement) : 460 Ton
- Kecepatan : berlayar 15 Knot, Jelajah 20 Knot dan max 28 Knot.
- Dilengkapi persenjataan canggih, berupa Meriam dan Peluncur Rudal seri C705 dan 802
- Jumlah penumpang 55 Orang- Ketahanan berlayar 9 Hari- Mesin pendorong 2 x 2880 kw

Selain produksi KCR, PT PAL sebenarnya juga telah berhasil memproduksi 43 kapal patroli, baik berukuran 28 meter hingga 57 meter pesanan Kementerian Pertahanan.

Sementara itu, Laksamana Muda TNI Suyitno, Aslog KASAL mengatakan tiga kapal KCR 60 ini bukanlah yang terakhir di pesan di PT PAL. "Kami saat ini masih pesan lagi dengan total nanti ada 16 KCR 60 meter pesan di PT PAL serta 16 KCR 40 meter," kata Suyitno.

Pembangunan KCR ini, kata dia, merupakan langkah awal untuk kemandirian alutsista khususnya bagi TNI AL. Harapannya pada tahun 2024 mendatang, TNI benar-benar sudah mandiri dalam membangun seluruh persenjataannya. 

(Suara Surabaya)

Penerbangan Uji Fungsi F-16 C/D Block 52ID Berhasil




F-16C TNI AU (photo : TNI AU)

Penerbangan Uji Fungsi F-16 Peace Bima Sena II Berhasil

Pelaksanaan Functional Check Flight atau Uji Fungsi pesawat F16C-52ID ber nomor ekor TS 1625 telah sukses dilaksanakan pada tanggal 21 April 2014. Pesawat berkursi tunggal ini merupakan pesawat pertama yang telah selesai melaksanakan program regenerisasi di Depo Regenerisasi Hill AFB. Proyek yang dinamakan Peace Bima sena II yang memakan waktu hampir 14 bulan ini dimulai sejak bulan April 2013. Penerbangan Uji Fungsi  dilaksanakan untuk memastikan semua sistem yang terintregrasi bisa beroperasi dengan baik. 

Sebelumnya Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Marsekal TNI I.B Putu Dunia didampingi Atase Udara RI di Washington DC, Kol Pnb Benedictus B Koessetianto dan Technical Liaison Officer Mayor Tek. Subagyo telah melaksanakan kunjungan kerja selama 2 hari di Depo Regenerasi Hill AFB, Utah pada tanggal 4-5 April 2014. Dalam kunjungan tersebut Kasau menerima laporan dari Maj Gen Brent Baker, Komandan Kompleks Logistik tentang pelaksanaan regenerasi F-16 C/D-52ID dalam Proyek Peace Bima Sena II di Hill AFB.  Dalam kesempatan tersebut Kasau melaksanakan inspeksi ke hangar tempat regenerasi pesawat dilaksanakan. Kasau juga melihat langsung pesawat pertama (TS 1625) yang telah selesai melaksanakan upgrade dan modifikasi. Kasau menyampaikan harapan agar regenerasi dapat dilaksanakan secara optimal sesuai jadwal yang telah direncanakan.

TS-1625, pesawat F-16C Block 52ID yang selesai pertama (photo : Agus Dwi Aryanto)

Pengadaan 24 pesawat F16 C/D-52ID merupakan kerjasama antara Pemerintah AS dan Indonesia berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada tanggal 17 Januri 2012. Pelaksanaan regenerasi meliputi structural/airframe upgrade 24 pesawat Block 25 agar mempunyai usia pakai lebih lama, serta modernisasi sistem avionic dan engine. Diharapkan program regenerasi akan meningkatkan kemampuan struktur pesawat sehingga dapat dioperasikan hingga mencapai masa usia pakai (service life) optimal. Disisi lain modernisasi avionic dan engine pesawat akan memiliki kemampuan tempur yang setara dengan F-16 block 52. 

Selain pengadaan 24 pesawat F-16, kontrak kerjasama juga meliputi pengadaan spare parts, support equipment, training, JMPS (Joint Mission Planning System), RIAIS (Rackmont Improve Aivonic Intermediate System ), AME (Alternate Mission Equipment) dan PMEL (Precision Measurment Equipment Laboratory). Dua puluh pesawat F-16 C/D-52ID yang terdiri dari lima pesawat F-16 D berkursi ganda dan 19 pesawat F-16 C berkursi tunggal akan dikirimkan secara bertahap ke Indonesia. Enam orang penerbang Skadron Udara 3 sudah mulai melaksanakan pelatihan “Differential Training”  di Tucson Arizona  mulai tanggal 30 Juni-14 Juli 2014. Selanjutnya dua penerbang akan ikut ferry flight tiga pesawat pertama dari Utah-Alaska–Guam–Madiun dengan air refueling sepanjang perjalanan yang direncanakan berangkat tanggal 15 Juli hingga tanggal 20 Juli 2014 tiba di Lanud Iswahjudi, Madiun Jawa Timur. 

Pengadaan 24 F-16 C/D-52ID tersebut akan melengkapi Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin untuk menambah kekuatan tempur  TNI Angkatan Udara sebagai tulang punggung kekuatan dirgantara (Air Power) kita demi menjaga Keamanan Nasional Indonesia.

(TNI AU)

DOA BUKA PUASA PRESIDEN RI dan JANJI PANGLIMA TNI



Presiden SBY mengingatkan kepada prajurit TNI bahwa
modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) bukan untuk unjuk
kekuatan. Modernisasi alutsista ditujukan untuk melindungi keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Kalau kita sudah semakin kuat, maka insya Allah kita tidak menginginkan
perang, tapi kita siap berperang kalau ada yang mengancam kedaulatan dan
keutuhan NKRI," tegas SBY dalam acara buka puasa bersama prajurit TNI di
Mabes TNI, Cilangkap, Jaktim, Rabu (3/7/2014).
SBY mengatakan bangsa Indonesia bukan bangsa yang tidak cinta damai.
Bangsa Indonesia tidak ingin menjadi bangsa yang agresif yang selalu
mengobarkan peperangan.
"Kita cinta damai tetapi tentu kita mencintai kedaulatan dan wilayah kita.
Oleh karena itu, meskipun tidak ada niat apapun bagi Indonesia dengan
tentara yang semakin kuat dan semakin modern, untuk menjalankan politik
yang ekspansif, agresif tetapi kita bertanggungjawab atas keutuhan wilayah
NKRI," tuturnya.
"Dan manakala lawan kita gentar untuk menghapus kedaulatan dan keutuhan
wilayah, sesungguhnya tentara kita telah bisa membangun efek tangkal yang
cukup. Dengan demikian kita tidak dilecehkan dan tidak semudah itu
diganggu oleh negara-negara dan kekuatan lain," lanjutnya.
Alangkah mulianya, menurut SBY, jika Indonesia bisa memberi contoh untuk
ikut membangun perdamaian di kawasan maupun di dunia. Dan itu harus
menggunakan soft power dan bukan menggunakan hard power.
"Manakala kita harus mempertahankan tanah air kita, hard power, kekuatan
militer mesti kita gunakan. Tetapi, kalau kita bisa melindungi kepentingan
nasional kita, tanpa harus menggunakan instrumen militer, tapi dengan cara-
cara yang baik, termasuk penggunaan soft power, maka itulah yang kita
gunakan," ungkapnya.
"Paduan penggunaan soft power dan hard power inilah yang kita sebut
dengan smart power, harus jadi mindset dan strategi dari Tentara Nasional
Indonesia sekarang dan ke depan," tutupnya.
http://m.detik.com/news/read/2014/07/03/231311/2627408/10/janji-panglima-tni-ke-sby-kawal-proses-alih-kekuasan-dengan-soft-landing?991101mainnews
Seiring dengan digelarnya Pilpres 2014, Indonesia akan memiliki
presiden baru menggantikan Presiden SBY yang akan habis masa
jabatannya pada Oktober mendatang. Panglima TNI Jenderal Moeldoko
berjanji akan terus mengawal proses suksesi kepemimpinan tersebut hingga
selesai dan berjalan damai.
"Pak Presiden dan Pak Wapres, saya selaku Panglima TNI dan jajaran akan
kawal dan amankan atas apa yang bapak hasilkan. Dan khususnya kami
seluruh prajurit akan kawal dan amankan jalannya pemerintahan hingga
akhirnya terjadi proses alih kekuasaan dengan soft landing," tegas Jenderal
Moeldoko.
Hal itu diungkapkan dalam acara buka puasa bersama Presiden SBY dan
Wapres Boediono di Mabes TNI, Cilangkap, Jaktim, Rabu (3/7/2014).
Moeldoko memuji Presiden SBY yang telah membangun kekuatan TNI sejak
awal menjabat. Kini, kekuatan TNI mampu bersaing dengan negara-negara
di kawasan dan dapat turut andil dalam upaya perdamaian di berbagai
daerah utamanya pada konflik Laut Cina Selatan.
"Saya tidak bisa bayangkan, kalau perkembangan Laut Tiongkok Selatan
seperti itu, tapi perkembangan alutsista kita masih seperti yang lalu. Kita
masih andalkan alutsista AMX13 yang sudah sangat tertinggal, oleh karena
itu berikan aplaus kepada Presiden," puji Moeldoko disambut tepuk tangan
hadirin.
Moeldoko juga memuji SBY dimana selama kepemimpinannya selama 10
tahun mampu menciptakan kondisi dalam negeri yang kondusif. Moeldoko
mencontohkan perkembangan Aceh, Palopo, dan lain-lain. Di luar negeri,
Moeldoko merujuk kondisi seperti di Arab dan Ukrania dimana kondisi dalam
negeri dua negara tersebut kini tengah memanas.
"Kita lihat perkembangan di Arab dan Ukraina, tapi Pak Presiden sudah
mampu ciptakan stabilitas dalam negeri sangat baik untuk saat ini,"
tuturnya.
Di penutup sambutannya, Moeldoko juga mendoakan Presiden SBY dan Ibu
Negara Ani Yudhoyono agar tetap sehat di detik-detik jelang masa
kepemimpinannya berakhir.
"Terakhir, Bapak Presiden dan Ibu Negara, semoga dalam keadaan sehat wal
afiat. Karena sejatinya kehadiran Bapak meski sudah selesai jalankan tugas
sebagai Presiden, tapi tetap dibutuhkan bangsa ini," tutupnya.


Selasa, 01 Juli 2014

Penerbang F-16 C/D 52ID TNI AU Menjalani Latihan Terbang Di Tucson 01 Juli 2014




F-16/C/D TNI AU (image : militarphotos)

Enam Penerbang F-16 TNI AU dari Sakdron Udara 3 telah tiba di Tucson Arizona untuk mengikuti latihan konversi menjadi instruktur penerbang pesawat tempur F-16 C/D Block 52ID dalam Proyek “Peace Bima Sena II”. Mereka adalah Komandan Skadron Letkol.Pnb.Firman “Foxhound” Dwi cahyono (40 th), Mayor.Pnb.Anjar “Beagle” Legowo (38 th), Mayor Pnb.Bambang “Bramble” Apriyanto (34 th), Kapt. Pnb Pandu “Hornet”Eka Prayoga (31 th), Kapt. Pnb.Anwar “Weasel” Sovie (30 th) dan Kapt. Pnb.Bambang “Sphynx” Yudhistira (30 th). Para penerbang kebanggaan TNI AU ini tiba di Tucson International Airport pada tanggal 25 Juli 2014 pukul 14.05 siang setelah menempuh perjalanan selama 28 jam dari Jakarta- Hongkong-Seattle dan Tucson.

Para penerbang akan menjalani Latihan “Differential Training” F-16 C/D di Tucson Arizona tanggal 30 Juni-11 Juli 2014. Selanjutnya setelah mengikuti penyerahan tiga pesawat ke pemerintah Indonesia maka pada tanggal 15 Juli dua penerbang akan ikut terbang “Ferry” dari Hill AFB, Utah – Eilsen AFB Alaska- Andersen AFB Guam dan langsung menuju Lanud Iswahyudi Madiun.   Selama perjalanan akan dilaksanakan beberapa kali “air refueling” atau pengisian bahan bakar di udara. Ketiga pesawat direncanakan akan mendarat di Madiun pada tanggal 20 Juli 2014 pukul 11.00 siang. Para penerbang akan melanjutan latihan terbangnya di Lanud Iswahyudi Madiun.

Pesawat Tempur F-16 C/D yang saat ini sedang di upgrade di Hill AFB memiliki nama resmi F-16 C/D k 52 ID memiliki kemampuan dalam banyak hal setara dengan pesawat F-16 Block 52, khususnya bidang kecanggihan avionic, kemampuan tempur dan jenis persenjataannya. Seluruh pesawat sebelumnya digunakan oleh USAF dan disimpan dengan baik di Davis Monthan AFB/AMARG (Aerospace Maintenance & Regeneration Group) yang berlokasi di gurun yang sangat kering. Sementara seluruh mesin pesawat tipe F100-PW-220/E menjalani upgrade di fasilitas pabrik Pratt & Whitney di Old Kelly AFB sehingga menjadi baru kembalai memiliki umur komponen dua kali lebih lama dari mesin standar.

Seluruh pesawat menjalani upgrading dan refurbished rangka serta sistem avionic dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center yang berada di Hill AFB, Odgen, Utah. Rangka pesawat diperkuat, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua system lama di rekondisi menjadi baru dan system baru ditambahkan agar pesawat lahir kembali siap menjadi pesawat baru dengan kemampuan jauh lebih hebat dari saat kelahirannya.

Sebetulnya pesawat F-16 C/D 52ID F-16 berdasarkan F-16 C/D Block 25 yang memiliki bentuk fisik dan berat kotor maksimum serta tipe mesin yang sama dengan pesawat F-16 Block 15 A/B OCU yang kita miliki. Memang pesawat F-16 C/D Block 52 dengan daya dorong lebih besar mampu mengangkut senjata lebih berat dan bisa terbang lebih jauh. Namun dalam close combat atau pertempuran udara jarak pendek maka pesawat F-16 TNI AU dengan T/W ratio lebih besar memiliki kelincahan yang lebih baik dari F-16 Block 52. Sehingga untuk urusan pertempuran udara dengan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder P-4/L/M dan IRIS-T (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C jelas pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU tidak kalah dengan pesawat F-16 C/D Block 50/52.

Untuk serangan permukaan darat dan perairan Pesawat F-16 ID juga mampu menggotong persenjataan kanon 20 mm, bomb standar MK 81/82/83/84, Laser Guided Bomb, JDAM (GPS Bomb), rudal AGM-65 Maverick, rudal AGM-84 Harpoon (anti kapal), rudal AGM-88 HARM (anti radar) serta mampu menggunakan navigation dan targeting pod untuk operasi malam hari serta missi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) menghancurkan pertahanan udara musuh. Improved Data Modem memungkinkan penerbang melakukan komunikasi tanpa suara hanya menggunakan komunikasi data dengan pesawat lain dan radar darat, radar laut atau radar terbang.

Upgrade Pesawat F-16 C/D 52ID tidak main-main karena mengejar kemampuan setara dengan Block 52, diantaranya memasang Mission Computer MMC- 7000A versi M-5 yang dipakai Block 52+, Improved Data Modem Link 16 Block-52, Embedded GPS INS (EGI) block-52 yang menggabungkan fungsi GPS dan INS , AN/ALQ-213 Electronic Warfare Management System, ALR-69 Class IV Radar Warning Receiver, ALE-47 Countermeasures Dispenser Set untuk melepaskan Chaff/Flare.  Sementara radar AN/APG-68 (V) di upgrade agar meningkat kemampuannya.

Prinsipnya pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU menjalani program The Common Configuration Implementation Program (CCIP) seperti yang dilakukan pada pesawat F-16 CD Blok 40/42 USAF agar meningkat menjadi standar Blok-50/52. Semua pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU juga menjalani modifikasi struktur rangka pesawat dengan program Falcon STAR (Structural Augmentation Roadmap) sehingga umur rangka pesawat menjadi lebih dari 10.000 jam, hal ini memungkinkan pesawat dipakai selama 10 tahun lagi sebelum menjalani Dervice Life Extension Program (SLEP) yang mampu menambah umur rangka pesawat sekitar 2000 jam atau 10 tahun masa pakai.

Pada saat usia pakai F-16 C/D 52 ID berakhir maka diharapkan Indonesia sudah memiliki armada pesawat tempur modern masa depan generasi 4.5 atau generasi ke 5. Pesawat F-16 C/D 52ID ini merupakan jembatan yang sangat baik untuk membawa Indonesia selangkah lebih maju, tidak hanya menghasilkan penerbang dan tehnisi yang mahir menguasai pesawat dengan generasi lebih maju, namun juga membawa kita untuk bersama-sama menguasai tehnologi, manajemen dan taktik pertempuran udara modern. Sehingga bisa membawa kekuatan udara betul-betul menjadi bagian dari operasi gabungan TNI dengan matra lainnya baik di Darat, Laut dan Udara. Pembelian F-16 C/D 52ID ini akan mendorong peningkatan kemampuan, pengalaman dan pengetahuan kita tentang apa yang diperlukan oleh Indonesia untuk membangun Air Power atau Kekuatan Dirgantara yang kuat.

(TNI AU)