Tampilkan postingan dengan label INDONESIAN AEROSPACE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDONESIAN AEROSPACE. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

PT Dirgantara Akan Produksi Ekor Sukhoi

  Sukhoi Super Jet 100

TEMPO.CO, Jakarta - PT Dirgantara Indonesia menerima pesanan untuk mengerjakan ekor pesawat Sukhoi. "Mereka minta kami membuat bagian belakang, dari vertical fin ke belakang," kata Direktur Utama Dirgantara Indonesia, Budi Santosa, di Kementerian Badan Usaha Milik Negara. Budi menuturkan nilai kerja sama itu diperkirakan US$ 40-60 juta per set.

Budi mengatakan saat ini Dirgantara Indonesia masih mengajukan gambar dan penawaran kepada Sukhoi. Menurut dia, gambar tersebut ditargetkan selesai awal tahun depan. Budi menjelaskan Sukhoi tertarik untuk bekerja sama karena melihat air frame Airbus yang dikerjakan Dirgantara Indonesia. Untuk saat ini kerja sama masih sebatas tahap negosiasi.

Budi mengatakan pengerjaan peralatan produksi untuk membuat komponen pesawat memakan waktu satu hingga dua tahun. Sukhoi sendiri, kata Budi, membutuhkan 40-60 pesawat setiap tahun. Menurut Budi, pengerjaan bagian belakang pesawat Sukhoi nantinya akan ditangani ahli teknik dari Dirgantara Indonesia.

Budi menuturkan mayoritas produksi perusahaannya saat ini untuk memenuhi pesanan militer. "Pesanan untuk militer mencapai 70-80 persen," ujar Budi. Sebanyak 80 persen tersebut merupakan pesanan yang harus dipenuhi sampai dengan 2016. Budi berharap setelah 2016 porsi pesanan akan berbalik, yaitu 70-80 persen untuk keperluan penerbangan sipil dan sisanya untuk militer.

sumber : TEMPO

Sukhoi Tertarik Pesawat Buatan PT DI

Sukhoi Tertarik Pesawat Buatan PT DI
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Tamu undangan melihat dari dekat pesawat CN235 110 KCG 4 Maritime Patrol Aircraft (MPA) pesanan Badan Penjaga Pantai Korea Selatan atau Korea Coast Guard (KCG) yang akan diterbangkan ke Gimpo Korea Selatan seusai serah terima yang dihadiri Wakil Menteri Pertahanan Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Syamsudin bersama Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Young Sun dan Direktur Utama PTDI Budi Santoso di Hanggar Fixed Wing PT DI KP II, Kota Bandung, Jumat (9/3/2012). Pesawat ini merupakan pesawat ke empat (terakhir) yang dikirimkan PT Dirgantara Indonesia untuk diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Korea Selatan dengan total nilai kontrak untuk empat pesawat KCG itu mencapai 94,5 juta dolar AS. Dengan penyerahan pesawat KCG keempat tersebut sekaligus melengkapi sebanyak 12 pesawat CN235 yang dibeli Pemerintah Korea Selatan dari PT DI. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) mengajukan desain pesawat untuk perusahaan penerbangan Sukhoi. Rencananya pengajuan desain tersebut telah diberikan kepada pihak Sukhoi pada awal tahun.
"Kita lagi mengajukan penawaran untuk mereka, gambara awal tahun ini, mereka melakuka test flight perkenalan karyawan kami juga ikut karena telat,"ujar Direktur Utama PT DI Budi Santoso, di Kementerian BUMN, Kamis (19/7/2012).
Menurut Budi Santoso, kalau pihak Sukhoi tertarik dengan model-model pesawat buatan Indonesia. Sukhoi mengakui kehebatan pesawat buatan Indonesia dari contoh Airbus.
"Mereka percaya Indonesia berepa jenis pesawat kita punya keunggulan. Mereka tahunya dari Airbus. Jadi kalau kita tidak mengirim ke mereka ya pesawat mereka nggak jadi,"ungkap Budi Santoso.

Budi Santoso menjelaskan, untuk membangun satu komponen pesawat pihak Sukhoi memerlukan waktu satu sampai dua pesawat bikin toolingnya. Untuk peralatannya, Budi mengatakan, produksinya perlu satu sampai dua tahun karena beda dengan bikin kapal.
"Biasanya kita buat perlu satu sampai dua tahun. Kalau sukhoi, perlu 40 sampai 60 pesawat dalam setahun, bagian belakangnya pesawat, ekornya pesawat, mudah-mudahan bisa jalan,"papar Budi Santoso. (*)

sumber : TRIBUN

Kamis, 19 Juli 2012

PT DI rekrut 1.500 karyawan baru

Pesawat N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia. Pesawat terbang berbaling-baling dengan teknologi menengah di kelas 19 penumpang ini dijagokan PT DI untuk pasar dalam negeri dan regional yang memerlukan peremajaan armada pesawat terbang sekelas dan dapat mendarat/lepas landas di bandara perintis dengan dukungan minimal. (istimewa)

Bandung (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menargetkan perekrutan sebanyak 1.500 karyawan baru hingga 2015 dalam rangka revitalisasi industri kedirgantaraan nasional itu.

"Perekrutan dilakukan mulai 2012 ini, ditargetkan peremajaan SDM akan dilakukan hingga 2015 dengan target 1.500 karyawan baru, semuanya tenaga ahli di bidang manufaktur dan kedirgantaraan," kata Direktur Umum dan SDM PT Dirgantara Indonesia, Sukatwikanto, di Bandung, Rabu.

Menurut Sukatwikanto, peremajaan karyawan itu juga dalam rangka regenerasi SDM di lingkungan PT DI dimana jumlah karyawan yang memasuki masa pensiun 2013 - 2015 cukup besar.

"Pada 2013 hingga 2015 banyak karyawan yang memasuki masa pensiun, sehingga harus dilakukan regenerasi dan saat ini sudah mulai dilakukan, mempersiapkan mereka cukup hingga setahun," katanya.

Ia mengakui sejumlah insinyur atau ahli di bidangnya mempunyai peluang diperpanjang hingga usia 60 tahun. Renegerasi sumber daya manuia yang dilakukan PT DI, kata dia merupakan kebutuhan bagi perusahaan untuk tetap mempertahankan performance dan kinerja.

Dengan regenerasi SDM ini, maka diharapkan pada 2020 bisa siap mendukung PT DI menjadi menufactur sesuai dengan rencana kerja perusahaan.

"Ke depan program dan proyek yang akan ditangani PT DI semakin besar dan berkembang dengan mengoptimalkan jejaring bisnis kedirgantaraan yang terus digenjot," katanya.

Regenerasi SDM itu juga merupakan bagian dari revitalisasi PT DI yang juga dilakukan di sektor mesin produksi, revitaliasi bisnis serta revitaliasi modal kerja.

Khusus untuk revitalisasi permesinan untuk mendukung produksi pembuatan komponen pesawat, PTDI menganggarkan dana sebesar Rp500 miliar untuk pengadaan mesin-mesin produksi yang baru.

"Mesin-mesin baru itu akan menggenjot kinerja dua kali lipat dalam pengerjaan proyek pembuatan komponen, namun mesin-mesin lama tetap digunakan," katanya.

Tahun 2011 hingga 2012 sudah dilakukan pengadaan mesin baru, namun angkanya masih kecil. Namun setelah adanya Penyertaan Modal Negara program revitalisasi mesin-mesin PT DI akan digulirkan.

"Mesin-mesin baru itu akan meningkatkan kinerja dan penyelesaian pesanan komponen dari sejumlah perusahaan kedirgantaraan dunia," katanya.

Salah satunya, kata Sukatwikanto, untuk proyek N-295, A-235 serta sejumlah komponen lain. Khusus untuk N-295, PT DI ditunjuk untuk menangani di kawasan Asia Pasifik.

"Saat ini tidak ada satupun perusahaan kedirgantaraan dunia yang membuat pesawat sendirian, semuanya dilakukan dengan memanfaatkan grup dan jaringan dengan perusahaan kedirgantaraan lainnya," katanya.

Begitu juga dengan PT DI selain membuat pesawat juga menjadi bagian dalam proyek pengadaan komponen pesawat dari sejumlah pabrikan pesawat dunia," katanya. (*)

sumber : Antara