Sabtu, 31 Mei 2014

PLA Could Commission Four Carrier Battle Groups: Kanwa


31 Mei 2014


DDG & FFG escort vessels for the Liaoning Carrier (photo : Jeffhead)

The People's Liberation Army Navy will commission between three and four carrier battle groups over the next 15 years, reports the latest issue of Kanwa Defense Review, a military magazine run by Andrei Chang also known as Pinkov, a defense expert from Canada.

Photos on the internet revealed new facilities and vehicles on the Liaoning, China's first aircraft carrier which is now undergoing maintenance at Dalian Shipyard. The magazine called this evidence that the PLA Navy has gained more experience in operating an aircraft carrier in the 18 months since the Liaoning was commissioned.

China is also quicker at constructing large surface combat vessels than the United States, according to the magazine, which stated that China already has plans to build two domestic aircraft carriers after the Liaoning. Over the next 15 years, the PLA Navy may be able to maintain four carrier battle groups. For the US Navy, meanwhile, there is currently debate over whether it is necessary to keep 11 aircraft carriers in active service.

Through gaining more diesel-electric submarines from Russia or producing them domestically, the PLA Navy possesses enough underwater threat to take on the United States Navy in any potential conflict, Kanwa said. All of the diesel-electric submarines are equipped with air-independent propulsion systems, which allow a non-nuclear submarine to operate without the need to access atmospheric oxygen and to stay underwater for a longer period of time.

The nuclear strike capability of the PLA has increased dramatically with the DF-41 nuclear solid-fueled road-mobile intercontinental ballistic missile and the JL-2 intercontinental-range submarine-launched ballistic missile in service, the magazine said.

At the same time, China is producing more and more fourth-generation fighters such as the J-11B, the J-15, the J-16 and the J-10B. Kanwa Defense Review said that China has no intention of challenging US influence around the globe, however, it has enough air and naval forces to conduct an anti-access and area-denial strategy over the Taiwan Strait and the South China Sea.

(WantChinaTimes)

Pertama Kalinya TNI AL Kirim Kapal Perang Ikuti Latma RIMPAC di Hawaii


Palaksa KRI Banda Aceh-593, Mayor Laut (P) Andi Wibowo (kanan) didampingi Kadiv Navigasi KRI Banda Aceh-593, Kapten Laut (P) Warjo penentuan posisi kapal melalui jalur Jayapura dalam pelayaran Latihan Bersama Multilateral Rim Of Pasific (Latma RIMPAC) 2014 melintas di Perairan Teluk Jakarta, Jumat (30/5). KRI Banda Aceh-593 yang merupakan kapal perang jenis Landing Platform Deck (LPD) beserta satu kompi Korps Marinir, satu unit helikopter Bolcow BO-105 milik Puspenerbal, dua unit tank LVT-7 Korps Marinir, dan satu unit Rhip-Impac Kopaska akan bergabung dengan 23 negara di Pearl Harbour Training Area dan perairan Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat pada 25 Juni-1 Agustus 2014. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/Koz/mes/14).

30 Mei 2014, Jakarta: Untuk pertama kalinya TNI AL mengirimkan kontingen satuan tugas multi korps sebagai peserta aktif pada Latihan Bersama Multilateral Rim of the Pacific 2014 di Pangkalan Utama Armada Ketujuh Angkatan Laut Amerika Serikat, Pearl Harbour, Amerika Serikat, pada 25 Juni-1 Agustus 2014 nanti.

Kontingen berangkat dengan KRI Banda Aceh-593 yang dilepas Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Marsetio, dalam satu upacara militer di dermaga Komando Lintas Laut Militer TNI AL, Tanjungpriok, Jakarta, Jumat.

"Laksanakan tugas ini sebaik mungkin, jaga nama baik bangsa, serap semua pengetahuan dan ilmu yang kalian dapat di sana semaksimal mungkin," kata Marsetio di luar naskah sambutan kepada Komandan KRI Banda Aceh-593 yang juga komandan satuan tugas itu, Letnan Kolonel Pelaut Arief Budiman.

Ke-236 personel gabungan TNI AL akan saling bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan 23 mitra internasionalnya. Tercatat 23 negara itu antara lain adalah Jepang, Cile, Korea Selatan, Singapura, Kanada, Norwegia, Peru, Brunei Darussalam, Kolombia, Selandia Baru, Meksiko, Belanda, Filipina, Thailand, China, Tonga, India, Perancis, Australia, dan Amerika Serikat sebagai tuan rumah.

Sejak lama RIMPAC digelar sebagai latihan maritim terbesar yang dilaksanakan Amerika Serikat di kawasan Pasifik. Walau "meminjam" arena latihan di seputaran Kepulauan Hawaii yang menjadi markas Pangkalan Utama Armada Ketujuh Angkatan Laut Amerika Serikat, namun penyelenggara adalah US Pacific Command dengan Armada Ketiga Angkatan Laut Amerika Serikat.

Di dalam KRI Banda Aceh-326, juga disertakan dua tank amfibi LVT-7 dari Korps Marinir TNI AL, satu unit helikopter NBO-105 Pusat Penerbangan TNI AL, dan satu unit kapal sergap laut (sea raider) Rhib-impact.

Unit-unit kecil pasukan khusus TNI AL dari unsur Intai Amfibi Korps Marinir TNI AL dan Komando Pasukan Katak TNI AL, juga serta karena latihan mereka menjadi menu penting latihan internasional itu.

Menurut Marsetio, "Ini juga menjadi arena bagi kami untuk saling belajar dan mempelajari doktrin-doktrin baru operasi maritim militer, juga menggalang interoperabilitas di antara angkatan laut dunia. Selama ini kami mengirim pasukan Korps Marinir TNI AL ke sana, sekarang bisa mengirim kapal perang.

Indonesia Tawarkan Kapal Perang Jenis LPD ke Pasar Dunia
KRI Banda Aceh-593. (Foto: Kolinlamil)

Seusai upacara di dermaga Komando Lintas Laut Militer TNI AL itu, Marsetio menyatakan, "Sengaja dikirim KRI Banda Aceh-593 karena sifatnya yang multitask dan sangat bermanfaat dalam misi-misi kemanusiaan, sesuatu yang sangat penting pada banyak negara," kata dia.

KRI Banda Aceh-593 dibuat di galangan kapal PT PAL, Surabaya, dan diluncurkan pada 21 Maret 2011 setelah dibangun sejak 19 Maret 2010. Dia menjadi kapal keempat di kelas ini, yang mengambil rancang bangun awal dari kelas Tanjung Dalpele, di galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (Daesun Shipyard), Korea Selatan.

Sebelum KRI Banda Aceh-593, berturutan kapal perang kelas LPD berbobot mati 8.400 ton, panjang 122-125 meter, lebar 22 meter, ketinggian 56 meter, dan draft 4,9 meter ini adalah KRI Makassar-590, yang dibangun pada 7 Desember 2006 dan diluncurkan 29 April 2007, KRI Surabaya-591 (7-Desember 2006-23 Maret 2007, diluncurkan 1 Agustus 2007).

Disusul KRI Banjarmasin-592 (19 Oktober 2006-28 Agustus 2008, diluncurkan 28 November 2009), dan KRI Banda Aceh-593 (07 Desember 2007-19 Maret 2010, diluncurkan 21 Maret 2011).

KRI Makassar-590 dan KRI Surabaya-591 dibangun di galangan kapal Daesun Shipbuilding & Engineering Co, Korea Selatan, sedangkan KRI Banjarmasin-592 dan KRI Banda Aceh-593 dibangun di galangan kapal PT PAL, Surabaya.

Proyek pengadaan kapal perang kelas LPD ini ditandatangani antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan pada 28 Maret 2005 setelah dirintis beberapa tahun sebelumnya.

Selain sebagai kapal perang kelas LPD, kapal kelas ini juga bisa berfungsi sebagai kapal komando dan pengendali pertempuran, yang dilengkapi meriam anti serangan udara dan laut 57 milimeter dan sistem pertahanan udara maritim.

Selain Indonesia dengan PT PAL-nya, kapal kelas ini juga dibeli Angkatan Laut Filipina dengan pola lisensi pembangunan di SIMA Callao Shipyard, Filipina. Mereka memesan dua unit LPD kelas Makassar ini.

Sumber: ANTARA News

Senin, 26 Mei 2014

Produk Unggulan Alutsista Dalam Negeri Di Masa Depan


 : Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengembangkan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) di masa depan. Langkah ini untuk menciptakan kemandirian pemenuhan alutsista dari industri pertahanan dalam negeri.

Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Badan Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim mengatakan pemerintah Indonesia memiliki 7 program penguasaan alutsista. Program tersebut sedang dan terus berlangsung, termasuk melibatkan negara asing dan BUMN Indonesia.

"Jadi program nasional ada 7. Pertama produksi propelan (bahan baku roket), tank (medium), kapal selam, IFX (jet tempur), misil, roket, fregate. Itu 7 program masih berjalan," kata Silmy di Kementerian Pertahanan Jakarta, Senin (26/5/2014).

BUMN strategis yang digandeng antara lain: PT Dahana (Persero), PT PAL (Persero), PT Pindad (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero) hingga PT LEN (Persero). Upaya menggandeng BUMN agar ada transfer teknologi dari negara mitra terhadap BUMN strategis.

Pengembangan alutsista di dalam negeri juga memiliki banyak manfaat. Disamping menghidupkan industri pertahanan dalam negeri, juga mampu menghemat devisa dan pajak akibat impor alutsista per tahun.

"Yang jelas anggaran pertahanan kisarannya meningkat terus. Setidaknya 30% untuk belanja alutsista. Keunggulan lain dari sektor pajak, alih teknologi, penguasaan SDM, kemudian kemandirian alutsista," jelasnya.

Produk-produk yang dikembangkan dan sedang berjalan seperti medium tank. Pengembangan medium tank ini melibatkan PT Pindad dan pemerintah Turki. Turki dinilai memiliki kapasitas mengembangkan dan memproduksi medium tank canggih.

"Ini progres dengan Turki. Turki punya ahli. Dia punya perusahaan ahli bikin tank," jelasnya.

Sedangkan untuk kapal perang, RI melalui PAL menggandeng perusahaan Belanda mengembangkan dan memproduksi kapal jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) atau Fregate. PAL juga berkerjasama dengan Korea Selatan mengembangkan dan memproduksi kapal selam di Surabaya, Jawa Timur.

Selain kapal, program lainnya adalah pengembangan jet tempur. Untuk pengembangan ini, Indonesia menggendeng Korea Selatan. Program tersebut bernama Korea Fighter experiment/Indonesia Fighter experiment (KFX/IFX). Pesawat tempur ini merupakan generasi 4.5 atau pesaing dari F16 versi terbaru. Pengembangan ini melibatkan PT Dirgantara Indonesia.




Sumber : Detik

TNI AD Kembangkan Pemindai Jarak Jauh untuk Awasi Perbatasan


25 Mei 2014


Multirotor TNI AD bekerjasama dengan Universitas Surya (photos : Viva, Jalo)

REPUBLIKA.CO.ID, GIANYAR -- Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengembangkan sejumlah peralatan berteknologi untuk mengawasi kawasan perbatasan dengan negara tetangga. 

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman mengatakan dari hasil riset, pihaknya bisa mengembangkan stasiun transmiter atau "Open Base Transmitter Statiton" (BTS) dan multirotor (alat pemindai jarak jauh) yang bisa digunakan untuk pengawasan dari jarak jauh.



"Kami sudah melakukan riset pengembangan sehingga yang semula pengamanan perbatasan dengan manual dan prajurit, ke depan mudah-mudahan menggunakan peralatan dari hasil riset," kata dia di Gianyar, Bali, Sabtu (24/5).

Pihaknya akan memprioritaskan pengembangan teknologi itu tahun 2014 dan ditargetkan bisa digunakan secara lengkap tahun 2015.

Peralatan seperti Multirotor itu akan diprioritaskan pada tiga negara yang berbatasan langsung dengan daratan Indonesia di antaranya Papua Nugini, Timor Leste, dan Malaysia.



"Kami mulai membeli sebagian hasil riset yang mulai kami produksi terutama yang murah tetapi bermanfaat untuk digunakan terlebih dulu," ucapnya. Sementara itu pada pulau terluar, pihaknya telah menempatkan personel dengan kegiatan patroli terbatas.

Indonesia setidaknya berbatasan langsung dengan 10 negara baik kawasan darat dan laut yakni Malaysia, Singapura, Timor Leste, Vietnam, Papua Nugini, Australia, Thailand, India, dan Filipina.

(Republika)

Indonesia Berpeluang untuk Dapatkan Kapal Selam Canggih dari Perancis


26 Mei 2014


MESMA-Teknolgi sistem propulsi-bebas udara (air-independent propulsion. AIP) dari DCNS, Prancis yang memungkinkan kapal menyelam di bawah permukaan air selama tiga minggu tanpa muncul ke permukaan air untuk pengisian baterai dan tidak mengeluarkan buangan panas (image : DCNS)

Jakarta, DMC – Pemerintah Indonesia dan Perancis dalam suatu forum bilateral “Indonesian-French Defense SMEs Bilateral Forum (First Edition)” membahas kemungkinan Indonesia untuk mendapatkan kapal selam dengan teknologi yang sangat canggih (sophisticated).  Hari pertama forum bilateral, Rabu (21/5), diisi dengan seminar tentang “Peluang Kerjasama Industri Pertahanan Indonesia-Perancis dan pembahasan atau diskusi mengenai kapal selam litoral dalam waktu bersamaan (paralel)”. 

Untuk itulah forum bilateral ini diselenggarakan untuk mengkaji dengan seksama segala kemungkinan teknologi kapal selam litoral ini dalam menutup celah pertahanan Indonesia yang berkaitan dengan peta dan kondisi perairan Indonesia. Apakah memang harus menggunakan kapal selam dalam menjaga laut dangkal atau cukup dengan sarana pertahanan yang lain?

Mengingat dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan, pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemetaan laut adalah esensial. Bagaimana keadaan hidrografi, tingkat kedalaman, kuat dan arah arus setiap musim dan perubahannya harus dipelajari dengan seksama dalam konteks pertahanan. 

Hal ini akam melahirkan operation requirement baik untuk laut dangkal dan laut dalam. Misalnya laut yang dangkal akan menuntut kelincahan atau manuver dari kapal selam untuk menghindari pemantauan atau deteksi dari udara sehingga timbullah kekhususan operasional. Oleh karena itu maka dalam menghitung postur kemampuan perang tidak hanya berdasarkan kekuatan an sich tetapi juga berdasarkan kemampuan dan gelar. 

Sementara itu ketua delegasi Perancis Admiral (Navy) Jean Claudelle dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa Perancis merupakan salah satu negara di Eropa yang sangat mendukung industri pertahanan yang berdasarakan pada sistem pertahanan otonomi dan kedaulatan. Dalam 50 tahun terakhir ini bidang industri dan peralatan pertahanan serta persenjataan Perancis menjadi hal yang sangat penting. 

Hal ini memberikan peluang bagi pemerintah Perancis dan industri pertahanannya kemampuan untuk mengembangkan peralatan dan semua spesifikasi operasionalnya seperti untuk angkatan laut, angkatan udara, helikopter, satelit, missile antar negara dan antar benua. 

Seperti diketahui kekuatan persenjataan dan pertahanan Perancis saat ini tersebar di Afrika Selatan, Mali, Guinea dan benua Afrika secara otonom dengan mitra atau partner  Perancis tanpa melibatkan kekuatan besar atau super power lainnya. Kemampuan ini menjadi suatu hal yang unik di benua Eropa. Diharapkan hal ini dapat menarik Indonesia sebagai partner Perancis yang menganggap kedaulatan wilayah sebagai sesuatu yang penting.  

Seminar yang diselenggarakan Kemhan RI dan The French Defense Procurement Agency (DGA) diikuti oleh berbagai perusahaan yang bergerak di bidang industri pertahanan Perancis seperti Airbus Helicopters, DCNS, EADS, MBDA Missile Systems, Thales dan perusahaan terkemuka Perancis lainnya. Pada hari kedua rangkaian kegiatan, Kamis (22/5), delegasi peserta dari Perancis bertolak ke Bandung untuk mengunjungi PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia.

(DMC)

Sabtu, 24 Mei 2014

Indonesia Rusia Kerjasama Luncurkan Roket


Polet, roket carrier dua tingkat  berbobot 100 ton, wahana pengorbit satelit
Polet, roket carrier dua tingkat berbobot 100 ton, wahana pengorbit satelit

JAKARTA-(IDB) : Rusia, Indonesia, dan Jerman hendak bekerja sama meluncurkan Polet, sebuah roket carrier dua tingkat berbobot 100 ton. Roket yang merupakan bagian dari proyek Air Launch tersebut akan diluncurkan dari Biak, Papua.


Wakil Menteri Perkembangan Ekonomi Federasi Rusia Aleskey Likhachev menyatakan saat ini koordinasi dasar di Papua sudah dilaksanakan dan negosiasi pembiayaan proyek tengah berlangsung.


sergey
Sergey Teselkin dalam pertemuan di Jakarta. Kredit: Mikhail Tsyganov

Hal itu dinyatakan Likhachev dalam kunjungannya ke Jakarta pada Maret lalu, saat memimpin lawatan delegasi bisnis Rusia ke negara-negara ASEAN. Menurut Likhachev, pelaksanaan proyek Air Launch di Indonesia memang tidak berjalan terlalu cepat, namun Rusia berharap proyek yang penting bagi kedua negara tersebut dapat segera terwujud. “Tidak menutup kemungkinan proyek ini akan melibatkan lingkup kerja sama yang lebih besar yakni antara Rusia dan beberapa negara ASEAN,” terang Likhachev.


Salah satu pencetus Air Launch, Sergey Teselkin, juga hadir dalam pertemuan di Jakarta tersebut.


Polet tidak diluncurkan dari permukaan bumi, melainkan dari ketinggian sepuluh kilometer di atas permukaan laut. Roket tersebut akan diangkut oleh Ruslan, pesawat terbang terbesar di dunia dan kemudian akan diluncurkan saat pesawat itu tengah mengudara. Hal itu akan menekan biaya peluncuran hingga dua kali lebih rendah.


air-launch
Air Launch dapat berfungsi sebagai sistem tanggap darurat.


Peluncuran satelit akan dilakukan di Pulau Biak, Papua, yang hanya bersudut dua derajat dari garis khatulistiwa. Dengan kecepatan rotasi bumi 0.4 kilometer per detik, maka biaya pengiriman satelit ke orbit menjadi lebih murah, karena putaran bumi sendiri yang akan mendorong satelit menuju orbit.


Teleskin menyatakan Air Launch dapat berfungsi sebagai sistem tanggap darurat. “Bayangkan saat para astronom menemukan asteroid yang datang mendekati bumi tanpa diduga, Air Launch (jika infrastrukturnya sudah dibangun dan berbekal roket ini) dapat menjadi satu-satunya sistem yang dapat mengatasi ancaman tersebut. Sistem ini akan menghancurkan asteroid berkeping-keping dalam dalam waktu sekitar lima hari setelah penemuan,” terang Teleskin


Peluncuran satelit akan dilakukan di Pulau Biak, Papua, yang hanya bersudut dua derajat dari garis khatulistiwa. Foto: Mikhail Tsyganov
Peluncuran satelit akan dilakukan di Pulau Biak, Papua, yang hanya bersudut dua derajat dari garis khatulistiwa.

Pelabuhan udara di Pulau Biak, Papua. Foto: Mikhail Tsyganov
Pelabuhan udara di Pulau Biak, Papua.

Selain itu, Teleskin menawarkan sistem yang revolusioner dalam proyek ini. Biasanya, sebelum peluncuran satelit dibawa ke kosmodrom (stasiun peluncuran roket) dan dijaga sepanjang waktu, tapi tak menutup kemungkinan terjadi kebocoran teknologi. Sementara, Polet akan didatangkan (dengan pesawat) kepada klien dengan menggunakan roket upper stage dan perakitannya dilakukan dibawah kontrol penuh klien.


Teknologi Air Launch merupakan milik Pusat Roket Negara (PRN) Rusia Makeyev yang telah bergerak di pasar persenjataan roket selama 60 tahun dan berpengalaman puluhan tahun di bidang teknologi peluncuran roket dari kapal selam.


Replika pesawat terbesar di dunia AN-124-100BC Ruslan. Foto: Mikhail Tsyganov
Replika pesawat terbesar di dunia AN-124-100BC Ruslan.


Teleskin menjelaskan, teknologi milik PRN sangat berguna dalam mempermudah peluncuran roket. “Roket seberat 100 ton yang terjun dari pesawat, dengan berat keseluruhan 400 ton, akan membuat kerusakan spesifik pada dinamika penerbangan. Air Launch membuat peluncuran beban seberat itu di udara menjadi lebih mudah dibanding melepaskan gelembung di hidrosfer,” terang Teleskin. Pesawat An-124 Ruslan sendiri memang dirancang untuk menerjunkan beban yang sangat berat.


Teleskin optimis proyek ini mampu menarik perhatian investor. “Semua investor yang kami temui menyarankan untuk melakukan pencobaan peluncuran roket. Bila kami berhasil melakukannya, investor akan menilai proyek ini berbeda dari sebelumnya. Para pengamat ahli dari Rusia, Eropa, bahkan AS memprediksi banyak klien potensial yang akan mengantri untuk berinvestasi,” kata Teleskin.

Proyek ini telah diajukan ke pemerintah Rusia, tapi Teleskin khawatir reorganisasi kepemimpinan Badan Antariksa Rusia Roskosmos akan menghambat kelancaran proyek. “Keputusan sudah diterima, tapi proyek baru boleh dilaksanakan setelah pembentukan struktur Roskosmos yang baru. Maka kami masih harus menunggu untuk merealisasikannya. Supaya tidak membuang waktu sia-sia, kami melanjutkan pekerjaan kami dengan mitra dari Indonesia dan Jerman.” Ujar Teleskin. 




Sumber : RBTH

Brahmastra Alat Bantu Tembak Produksi Pindad


 : Brahmastra merupakan alat bantu penembakan mortir yang efektif, efisien, dan akurat. Brahmastra memilki kekuatan yang optimal dalam memberikan solusi untuk semua metode penembakan mortir.


Brahmastra memiliki beberapa fitur yang sangat mendukung kinerja pasukan di medan perang untuk menembakan mortir secara akurat terhadap musuh. Brahmastra adalah alat yang cepat dan akurat dalam menentukan lokasi penembakan, sehingga bisa dilakukan efisiensi waktu pada saat penembakan. Selain itu alat ini juga memiliki fungsi “SAVE” terhadap semua langkah yang telah dilakukan. Selain fungsi menyimpan, alat ini juga memiliki fungsi “REPLAY” untuk melihat kembali langkah-langkah yang telah dulakukan user, sehingga dapat dilakukan review dan menjadi masukan dalam menyusun langkah selanjutnya.


Brahmastra juga memiliki display yang dapat menampilkan gambar peta, grafik lintasan, jarak aman, dan tanda-tanda taktis yang dapat mendukung proses penembakan mortir secara maksimal. Brahmastra juga dilengkapi output data penembakan dan dapat mengakomodasi mode penembakan mortir sesuai taktik militer. Semua fungsi-fungsi tersebut dapat mempermudah operasionalisasi alat saat di medan perang.


Brahmastra sangat mendukung kinerja pasukan angkatan darat di medan perang dalam melakukan penembakan jarak jauh dengan menggunakan mortir. Kelebihan produk ini adalah semua fitur yang terdapat di dalamnya dapat mendukung kinerja pasukan dalam penembakan mortir secara lebih efektif, efisien, dan akurat.


Brahmastra merupakan proyek kerjasama yang dilakukan antara PT Pindad (Persero) dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan selama pengembangannya belum ditemukan kendala yang berarti.


Beberapa komponen masih mengimpor dari luar negeri seperti LCD dengan jenis Sun Readabale LCD High Definition dan core module, sedangkanuntuk sisa komponen penyusun dirakit di PT Pindad (Persero). Khusus untuk perangkat lunak (software) untuk perangkat ini, dibuat oleh pihak BPPT.


Pengujian perangkat ini telah dilakukan secara internal dengan tim dari PT Pindad (Persero), sedangkan untuk pengujian eksternal telah melibatkan satuan TNI AD yaitu Pussenif. Sertifikasi untuk perangkat ini belum dilakukan.




Sumber : Pindad

Indonesia Perancis Bangun Pabrik Propelan


A :Satu lagi kabar baik bagi Industri Pertahanan dalam negeri. ARC mendapat kabar, sudah ditanda tangani MoU kerja sama pembangunan pabrik propelan antara PT.DAHANA dengan Roxel serta Eurenco dari Prancis. Pengumuman kerja sama itu sendiri akan diumumkan oleh Kementrian Pertahanan dalam waktu sangat dekat.

Dalam kerjasama itu, semua pihak sepakat membangun pabrik propelan di kawasan Subang Jawa Barat. Pabrik seluas 50 ha ini nantinya dibangun di area PT. Dahana dan akan memakan waktu pembangunan selama 4 tahun. Diharapkan, groun breaking pertama pabrik propelan nasional ini akan berlangsung sebelum HUT TNI 5 oktober mendatang.Produk yang dihasilkan nantinya akan diserap oleh industri pertahanan, terutama bahan baku untuk membuat peluru, roket dan peluru kendali.


Roxel sendiri merupakan penghasil propelan ternama asal Prancis. Hampir semua Roket dan Rudal buatan eropa barat menggunakan propelan buatan Roxel. Diantaranya keluarga Exocet, Mistral, Rapier, hingga RBS-15 dan lainnya. Kabarnya juga, Roxel berpengalaman memasok propelan Munisi Kaliber Khusus untuk PT.Pindad


Sementara Eurenco merupakan perusahaan yang mengembangkan, memproduksi dan menyediakan aneka ragam bahan energetik untuk pertahanan dan pasar komersial. Termasuk untuk bahan isian propelan dan hulu ledak meriam, hingga rudal anti tank.


Upaya kemandirian di bidang propelan ini sendiri merupakan salah satu program utama KKIP. Industri propelan merupakan salah satu industri strategis menuju kemandirian di bidang Roket serta Peluru Kendali. Sehingga cita cita Roket serta Rudal nasional kini semakin mendekati kenyataan.



Sumber : ARC

Astros II Pesawan TNI Akan Diuji Coba


 Republik Indonesia melengkapi alat utama sistem pertahanan dengan misil Artillery Saturation Rocket System atau Astros II. 
 

Tim dari Kementerian Pertahanan berkunjung ke Avibras, perusahaan swasta di Sao Paulo, Brasil yang memproduksi Astros II, Kamis (22/5) pagi waktu setempat (Kamis (22/5) malam WIB). 
 

Tim dipimpin Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemenhan Laksda Rachmad Lubis. Rombongan diterima Presiden Avibras Sami Youssef Hassuani, Direktur Pengembangan Bisnis Internasional Leandro Villar, dan Manajer Pengembangan Bisnis Hans Kristensen. 
 

Sami Youssef Hassuani mengatakan pemesanan atau pembelian Astros II bukan cuma kerja sama bisnis. 
 

"Ini lebih dari sekadar kerja sama bisnis, tetapi juga kerja sama telnologi, dan kerja sama pertahanan antara Brasil dan Indonesia karena meski kami perusahaan swasta, angkatan bersenjata Brasil mendukung kami," kata Hassuani, seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia Usman Kansong dari Sao Paulo, Brasil. 
 

Dalam rombongan Kemenhan, turut serta staf Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, Bappenas, dan wartawan. 
 

"Ini adalah bentuk keterbukaan informasi agar rakyat tahu untuk apa uang negara digunakan, juga dalam rangka good governance dan clean government," jelas Laksda Lubis kepada pihak Avibras. 
 

Rombongan Kemenhan berkesempatan melihat langsung tahap-tahap produksi Astros II. Pekan depan akan dilakukan uji coba Astros II dan akan disaksikan Wamenhan Sjafrie Syamsoeddin. 
 

Kemenhan membeli Astros II sebanyak 32 paket terdiri dari truk peluncur, alat peluncur, misil berbagai ukuran dan jangkauan, termasuk training. Harga ke-32 paket Astros II mencapai US$404 juta. Kontrak pembelian sudah ditandatangani akhir tahun lalu. 
 

Misil Astros generasi awal dipakai dalam Perang Teluk pada awal 1990-an. Malaysia juga memiliki Astros I yang berdaya jangkau hingga 100 kilometer. Sedangkan Astros II yang sedang dikembangkan oleh Avibras dengan jangkauan hingga 300 kilometer.




Sumber : Metrotvnews

Rabu, 21 Mei 2014

Panglima TNI : Indonesia Tak Butuh Kapal Induk


JAKARTA-(IDB) : Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Moeldoko mengatakan bahwa TNI tak membutuhkan kapal induk untuk memperkuat alat utama sistem persenjataan. Pernyataan Moeldoko tersebut disampaikan setelah membuka latihan gabungan tiga matra TNI di Taxy Way Echo Skuadron 17 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin, 19 Mei 2014. 
 

"Kapal induk tak sesuai dengan doktrin TNI," kata Moeldoko kepada wartawan sambil tersenyum. 
 

Menurut dia, kebutuhan kapal pengangkut pesawat tempur tak begitu perlu untuk TNI. Sebab, TNI bisa memanfaatkan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke untuk menyimpan, menyiagakan, dan mendaratkan pesawat-pesawat milik TNI AU. Dengan kata lain, pulau-pulau kecil Indonesia sudah seperti kapal induk. 
 

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio membenarkan argumen Panglima Jenderal Moeldoko. Menurut dia, doktrin yang dianut TNI AL saat ini adalah Green Water Navy atau tentara yang tak keluar dari perairan  Indonesia. "Hanya negara penganut Blue Water Navy (negara yang berlayar hingga ke perairan internasional) yang butuh kapal induk," kata Marsetio. 
 

Negara penganut Blue Water Navy, dia melanjutkan, cenderung negara agresor yang bisa mengancam kedaulatan negara lain. Sedangkan Indonesia adalah negara cinta damai yang lebih mementingkan kedaulatan wilayahnya. 
 

Saat ini TNI Angkatan Laut sedang menunggu kehadiran tiga unit kapal perang baru jenis multi-role light fregatbuatan Inggris. Ketiga kapal perang tersebut bakal dinamai KRI Bung Tomo, KRI John Lee, dan KRI Usman Harun. Ketiga kapal tersebut bakal dipasangi sejumlah senjata rudal, roket, dan radar jenis baru. 

Nama KRI Usman Harun sempat diprotes pemerintah Singapura karena diambil dari nama dua anggota Komando Korps Marinir yang mengebom kawasan elite di Singapura beberapa puluh tahun silam. 



Sumber : Tempo

Kembali Indonesia Raih Juara Umum AASAM 2014


DARWIN-(IDB) : Kontingen penembak Indonesia berhasil menjadi juara umum dalam Lomba Tembak Australian Army Skills at Arms Meeting (AASAM) 2014 dengan perolehan 32 medali emas, 15 medali perak, dan 20 medali perunggu. Dalam perlombaan senjata tahunan itu, kontingen TNI AD menjadi juara umum dengan menggunakan beberapa senjata produksi PT Pindad (Persero).


Dalam kompetisi menembak yang diselenggarakan pada tanggal 5-16 Mei 2014 di Puckapunyal Military Area Victoria, Australia ini, kontingen Indonesia memakai beberapa produk senjata produksi PT Pindad (Persero) seperti senapan serbu SS2-HB (Heavy Barrel), Senapan Mesin SM-2, dan SM-3, serta pistol G2 versi Elite. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kontingen Indonesia mengikuti beberapa materi perlombaan seperti materi perorangan maupun tim, pada nomor senapan, pistol, senapan otomatis (SO) dan gabungan materi senapan dan SO.


Pada penyelenggaraan AASAM 2014, Indonesia harus menghadapi tim menembak dari 16 negara yaitu Australia, Kanada, Perancis, Timor Leste, Brunei Darussalam, Inggris, Angkatan Darat Amerika Serikat, Angkatan Laut Amerika, Selandia Baru, Singapura, Thailand, Jepang, Filipina, Papua Nugini, dan Tonga. Kinerja tim yang baik dan kehandalan para penembak, didukung oleh senjata yang akurat, membuat Indonesia jauh meninggalkan pesaing-pesaingnya dan menjadi juara umum, diikuti Australia dan Brunei Darussalam di tempat kedua dan ketiga.

Indonesia berhasil mendapatkan gelar juara umum AASAM sejak tahun 2008 hingga tahun 2014 dan tentunya, ini merupakan suatu hal yang sangat membanggakan bagi bangsa. Untuk PT Pindad (Persero) sendiri, prestasi ini merupakan suatu pembuktian bahwa senjata-senjata yang diproduksi mempunyai kualitas yang baik dan tingkat keakuratan yang tinggi. 




Sumber : BUMN

2016 Pindad Targetkan Medium Tank Kelar


BANDUNG-(IDB) : Industri lokal telah mampu memasok Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) berteknologi modern. BUMN produsen kendaraan tempur dan senjata, PT Pindad (Persero) yang berbasis di Bandung, Jawa Barat salah satu yang mampu melakukannya.

Produk unggulan Pindad yang sukses dan laris manis adalah panser ANOA 6X6. Sukses di kelas panser, Pindad melanjutkan inovasi pada kendaraan tempur beroda rantai alias tank. Pindad optimistis bisa melahirkan tank medium pada 2016.

“Harapannya bisa kuasai medium tank pada tahun 2016. Itu jenis canon. Itu yang dibutuhkan user adalah medium tank dengan bobot 25-30 ton,” kata Direktur Utama Pindad Tri Hardjono saat ditemui di DPR RI Senayan, Jakarta Selasa (20/5/2014).

Tri menyebutkan tank tersebut masuk kategori kendaraan tempur modern. “Kemampuan manuvernya tinggi, geraknya cepat, punya daya tembak lebih besar,” sebutnya.

Kemampuan Pindad mengembangkan tank tersebut tak lepas dari perjalanan panjang di industri pertahanan. Pindad berpengalaman merakit tank scorpion, mengembangkan prototipe tank, memodifikasi (retrofit) tank AMX-13 milik TNI hingga pengembangan produk tank bersama Turki.

Pengalaman dan kemampuan tersebut selanjutnya digunakan Pindad untuk melahirkan tank canggih asli karya putra-putri bangsa Indonesia. “Dengan 3 pengalaman ini. Kita juga sedang dimintakan lagi. Kita diminta kembangkan satu kendaraan medium tank bersama dengan Turki,” jelasnya.

Selain mengembangkan tank, Pindad juga akan meningkatkan kemampuan produk panser ANOA. Pada tahun 2015, Pindad akan memproduksi ANOA versi amphibi. Panser versi amphibi mampu dioperasikan di darat dan permukaan air.

“Ini APC (armoured personnel carrier), tapi Amphibi. 2014 kita punya prototipe dan 2015 itu kita jual,” jelasnya.

Tri menerangkan beberapa negara tertarik dan sedang menjajaki pembelian panser ANOA, salah satunya adalah Malaysia. “Malaysia berminat, kemudian Putra Mahkota Brunei berminat, ada negara di timur tengah berminat,” katanya.




Sumber : Detik

Perwira AS : F-35 Tidak Lebih Baik Dari Pesawat Tempur Saat Ini


NEW YORK-(IDB) : Seorang analis militer mengatakan bahwa jet tempur siluman baru F-35 mungkin tidak jauh lebih baik dari pesawat tempur yang ada saat ini. Hal ini diungkapkan oleh seorang perwira senior Angkatan Udara AS, Kolonel Michael W. Pietrucha dalam analisanya di Air and Space Power Journal. Pietrucha mengatakan bahwa pengadaan jet tempur senilai USD 117 juta ini mungkin perlu dibatalkan karena kinerjanya yang tidak memuaskan. 


F-35 Joint Strike Fighter (JSF) yang dibangun untuk pasukan AS dan sekutunya, pengembangannya masih berdasarkan ide-ide pertempuran udara yang sudah usang, klaim Pietrucha. F-35 bisa saja tidak mampu menghindari radar musuh dan apabila digunakan untuk kampanye jangka panjang maka biayanya terlalu mahal.



Kritik dalam jurnal Angkatan Udara AS tersebut bahkan menyimpulkan bahwa pesawat tempur baru ini (F-35) kemungkinan memiliki performa yang kurang, bahkan dari pesawat-pesawat tempur yang ada saat ini. 
Militer AS berencana memesan lebih dari 2.400 unit F-35, Australia 100 unit dan Inggris 48 unit (sebelumnya Inggris berniat membeli 138 unit). Program senilai USD 396 miliar ini menjadi program pengembangan senjata termahal dalam sejarah, mirisnya ini bahkan terjadi saat AS dan negara-negara Eropa (yang turut dalam program) mengalami pemotongan anggaran pertahanan.



Dalam analisanya, Pietrucha menyebutkan bahwa: "Meskipun seandainya ada dana yang tidak terbatas, masih ada cukup alasan untuk mengakhiri program F-35." 


F-35 belum tentu bisa diandalkan, sedangkan F-15 dan F-16 sudah semakin menua. Anggaran yang semakin tercurah untuk pengembangan F-35 juga telah mengambil jatah jam terbang dan upgrade pesawat-pesawat yang ada seperti F-15, F-16, F-18 dan F-22. Jam terbang untuk pilot-pilot tempur juga semakin sedikit, menempatkannya kurang dari jam terbang pilot China dan beberapa negara lain.

Disebutkan dalam jurnal: "Secara khusus, kinerjanya (F-35) belum memenuhi persyaratan awal, daya angkutnya kecil (untuk senjata, dll), jangkauan pendek, dan upaya spionase oleh Republik Rakyat China mungkin telah dilakukan sejak lama bahkan sebelum pesawat ini diperkenalkan yang mungkin akan membahayakan nantinya."



Selain itu, kemajuan pesat dalam sistem radar dan pertahanan udara Rusia dan China semakin memberi ketidakjelasan apakah teknologi siluman masih efektif atau tidak, Pietrucha mengingatkan. Dia juga mengatakan bahwa program F-35 harus ditunda dan Angkatan Udara AS sebaiknya menggunakan pesawat campuran di masa depan. Jika Amerika Serikat sendiri menarik diri dari program F-35, sudah tentu negara-negara lain akan mengikutinya, Pietrucha mengatakan.



Pietrucha mengatakan kepada The Sunday Telegraph bahwa: "Semua program pengembangan pesawat tempur memang mengalami kendala. Tapi yang satu ini sangat mengganggu, belum tentu karena secara inheren pesawat ini buruk, tetapi karena pesawat-pesawat ini sedang dibeli padahal mereka belum terbukti. Mereka belum diuji diluar uji simulasi komputer." Lebih lanjut dikatakan bahwa F-35 memang masih sulit untuk di-judge, karena potensinya belum teruji dan pernyataan-pernyataan cenderung hanya menyebutkan apa yang pesawat ini bisa lakukan meskipun tidak ada data uji operasional yang benar-benar memastikan bahwa pesawat itu memang bisa melakukannya.



Edward Hunt, seorang analis kedirgantaraan senior di IHS Jane, mengatakan kinerja F-35 menjadi subyek perdebatan luas di kalangan penerbangan militer.



Elizabeth Quintana, peneliti senior Air Power di Royal United Services Institute, mengatakan terjadi perdebatan tentang mana yang lebih bijaksana ketika harus menggantungkan kekuatan pada armada tempur high-end(seperti F-35) atau menggunakan campuran pesawat tempur high-end dengan pesawat yang lebih murah, pesawat serang ringan atau pesawat udara remote control. Yang mana yang akan memberikan lebih banyak pilihan atau keuntungan di medan perang di masa depan. 


Selama ini, F-35 dikatakan sebagai pesawat tempur paling canggih di dunia dengan fitur siluman serta sensor dan senjata canggih yang belum pernah ada sebelumnya. Pesawat ini juga secara khusus didesain agar terus relevan dalam menghadapi jenis-jenis ancaman baru di masa mendatang.




Sumber : Artileri

IF-X Masuk Lini Produksi Massal 2022


 Indonesia dan Korea Selatan sedang mengembangkan jet tempur. Program tersebut bernama Korea Fighter eXperiment/Indonesia Fighter eXperiment (KFX/IFX).

Untuk versi Indonesia diberi nama IFX. Untuk mengembangkan dan memproduksi pesawat tempur generasi 4.5 ini, diperlukan waktu minimal 8 tahun. Program KFX/IFX atau pesawat tempur pesaing F-16 tersebut, dari pengembangan sampai meja produksi akan memakan waktu 8 tahun atau bisa diproduksi massal sesuai rencana pada tahun 2022.

“Untuk buat pesawat terbang militer itu normal 8 tahun. Apalagi skala fighter kalau pesawat kecil biasa cuma 4 tahun. Produksinya 2022. Prototype harus terbang pada tahun 2020. Itu sudah terbang. Itu untuk 2 negara,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Budi Santoso  saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta seperti dikutip Rabu (21/5/2014).

Pesawat tempur IFX versi Indonesia akan dikembangkan dan diproduksi pada fasilitas PTDI di Bandung Jawa Barat. Pada tahun ini, akan memasuki masa Engineering and Manufacturing Development (EMD). Fase ini mundur 1 tahun dari jadwal.

Sebelum masa EMD, insinyur Indonesia mempelajari dan mempersiapkan kesiapan teknologi dan sumber daya manusia pesawat tempur.

“Seharusnya dimulai tahun 2013 tapi dimundurkan 1 tahun ke 2014 akibat adanya pergantian presiden di Korea Selatan,” sebutnya.

Budi menerangkan, teknologi pesawat KFX/IFX akan mengadopsi pesawat generasi 4.5 atau lebih unggul dari pesawat F16. Namun biaya pengembangan jauh lebih murah.

“Jadi pengin cari pesawat yang lebih canggih daripada F16 tapi target kita lebih murah daripada F16. Kira-kita seperti itu,” sbeutnya.

Prototype atau purwarupa IFX/KFX bisa mengangkasa mulai tahun 2020. Selanjutnya 2 tahun kemudian baru memasuki fase produksi massal. Budi menyebut bisa saja Indonesia melakukan pengembangan lanjutan karena pesawat harus disesuaikan dengan kondisi geografis dan ancaman terhadap Indonesia. Proses penyesuaian tersebut bisa memakan waktu 1 hingga 2 tahun.

“Semua Alutsista harus disesuaikan dengan kondisi negara sendiri. Apakah musuhnya, geografis atau kondisi lawannya. Apa yang terjadi di Korea kan berbeda dengan di Indonesia. Dia satu kontinen sedangkan negara kita dikelilingi lautan,” terangnya.

Budi menerangkan untuk memenuhi kebutuhan militer Indonesia, pesawat tempur pesaing F16 tersebut akan diproduksi sekitar 50 unit. Proses produksi dan pengiriman pesawat akan mulai berjalan sejak tahun 2022 hingga 2030. Alhasil program pengembangan pesawat tempur menghadapi pergantian pemerintahan berkali-kali

“Ini ganti presiden berkali-kali karena kita lihat selesai delivery terakhir pesawat itu mungkin 2030. Itu dari 2022 tapi kalau nambah lagi ya terus,” katanya.
 



Sumber : Detik