Minggu, 27 April 2014

Construction for the Second PKR 10514 Frigate to Start in Next 3 Months




Sigma PKR 10514 frigate (image : Acelanceloet)
Damen Schelde Naval Shipbuilding Lays Keel for First Sigma 10514 PKR Frigate

In accordance with the agreed planning in the contract for the construction of a Damen SIGMA Frigate for the Indonesian Navy, the keellaying ceremony has taken place on 16 April 2014 at the PT PAL (Persero) Shipyard in Surabaya, Indonesia.

The construction of the 4 modules that are going to be built at PT PAL (Persero) Shipyard Surabaya and the two modules that are being built in Vlissingen, are proceeding according to schedule

The construction and testing of the modules simultaneously at two different locations signifies the unique Damen Schelde Naval Shipbuilding modular building strategy that is unparalleled in the naval shipbuilding industry. All modules will be assembled at the PT PAL (Persero) Shipyard under main contractorship of Damen Schelde Naval Shipbuilding followed by Harbour Acceptance Tests and Sea Acceptance Trials.

Second Frigate
Furthermore, the progress for the second SIGMA 10514 PKR frigate, for which the contract was signed 14 February 2013, proceeds as scheduled and construction is foreseen to start in approximately 3 months.

Expanding Indonesian Navy
The acquisition of the SIGMA 10514 PKR Frigate is part of the further modernization and expansion of the Indonesian Navy, TNI-AL. The main missions and tasks of the SIGMA PKR 10514 will be in the domains of naval warfare as well as Maritime Security missions and tasks. Also, the ship may be used for humanitarian support tasks.

(Damen)

Australia Confirms 58 F-35 Order




After a previous decision to purchase 14 JSF, the purchase of 58 JSF will increase total number of F-35As Australia to 72 (photo : Aus DoD)

F-35As to transform Australia's air combat capability

Australia will acquire another 58 F-35A Lightning II aircraft in a major boost to the nation’s air combat capability, Prime Minister Tony Abbott announced in Canberra on April 23.

The additional aircraft will lift the total number of F-35As Australia will acquire to 72, after a previous decision to purchase 14.

This will create a total of three operational squadrons – two at RAAF Base Williamtown and one at RAAF Base Tindal – and a training squadron at RAAF Base Williamtown
The F-35A will replace the Royal Australian Air Force’s fleet of F/A-18A/B Hornets.

The first aircraft will arrive in Australia in 2018, with Number 3 Squadron operational by 2021. All 72 aircraft are expected to be operational by 2023.

The total cost will be $12.4 billion including about $1.6 billion for new facilities at RAAF Bases Williamtown and Tindal.

The Chief of Air Force, Air Marshal Geoff Brown, is enthusiastic about the F-35’s stealth capabilities.

He said the jump between a fourth- and fifth-generation fighter was dramatic.

“It’s the difference between being in a biplane against a monoplane pre-World War II, the difference between a piston engine and a jet – it’s one of those game-changing events,” he said.

Air Marshal Brown said the announcement of an additional 58 Joint Strike Fighters allowed Air Force to plan for the full withdrawal of the 71 F/A-18A/B Hornets.

“The Hornet’s been the mainstay of our air combat fleet for nearly 30 years. To be signed up to the future means we can go forward and plan how we’re going to transition,” he said.

“The transition will be quite a difficult thing to do because we need to move people from that era of technology into a completely different generation.”

Air Marshal Brown said the F-35As would need upgrades to maintain their combat edge but the Joint Strike Fighter program was designed for easier improvements than the F/A-18s.

He said the F-35As would be complemented by the RAAF’s 24 F/A-18F Super Hornets and 12 EA-18G Growlers.

(Aus DoD)

Indonesia Akan Dirikan Fasilitas Design Kapal Perang


Indonesia akan segera mendirikan fasilitas
desain kapal perang di Surabaya. Lokasinya sangat mungkin akan
bertempat di salah satu perguruan tinggi negeri di kota yang
menjadi basis utama kekuatan laut Indonesia.
Tujuan dari pendirian fasilitas itu adalah untuk menjadi pusat
desain kapal perang bagi Indonesia, apapun jenis kapal perang itu.
Pusat desain tersebut nantinya akan menyerahkan hasil desain
kepada galangan kapal yang diserahi oleh pemerintah untuk
membangun suatu kelas kapal perang.
Eksistensi pusat desain kapal perang memang suatu keharusan
bagi Indonesia. Selama ini desain kapal perang sepenuhnya
diserahkan kepada produsen kapal perang berdasarkan spesifikasi
teknis yang ditetapkan oleh pengguna akhir. Namun demikian, ada
hal yang harus diperhatikan dengan pembangunan fasilitas
tersebut.
Galangan kapal perang seperti PT PAL Indonesia mempunyai pusat
desain sendiri, di mana salah satunya adalah mendesain kapal
perang yang akan dibangun oleh galangan itu. Agar tidak
memunculkan tumpang tindih, sebaiknya harus ada sinergi antara
pusat desain milik galangan kapal dengan pusat desain kapal
perang yang dimiliki atau di bawah pengawasan Departemen
Pertahanan.
Selain itu, keberadaan fasilitas desain kapal perang harus pula
mampu mengembangkan filosofi kapal perang Indonesia. Hal itu
bersifat sangat penting karena filosofi itulah yang akan menentukan
desain kapal perang. Selama ini tak jelas filosofi kapal perang yang
dianut oleh Indonesia.
Sumber : Torpedo

Sabtu, 26 April 2014

Usulan Pengganti F-5 Bertambah dengan Eurofighter Typhoon




Eurofighter Typhoon diusulkan oleh PT DI karena alasan kemudahan transfer teknologi (photo : Saeed Ezadi)

JAKARTA - Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara masih mengkaji calon pengganti pesawat tempur F-5 Tiger yang akan dikandangkan. Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Rachmad Lubis, mengatakan empat pesawat generasi 4,5 atau mendekati kemampuan pesawat siluman atau antiradar yang dilirik adalah Sukhoi Su-35 buatan Rusia, SAAB JAS Gripen produksi Swedia, Dassault Rafale dari Prancis, serta Boeing F/A-18E/F Super Hornet bikinan Amerika.

"Masih kami pertimbangkan dari sisi anggaran. Kami mempelajari yang paling menguntungkan pemerintah," kata Rachmad kepada Tempo di kantornya, Rabu pekan lalu. Rachmad belum bisa memastikan jumlah anggaran untuk membeli pesawat baru.

Sumber Tempo di Kementerian Pertahanan mengatakan sebenarnya ada usulan baru pengganti F-5 Tiger. Yaitu Eurofighter Typhoon yang diproduksi bersama oleh Inggris, Spanyol, Jerman, dan Italia. Usul pembelian Typhoon diajukan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Menurut sumber ini, PT DI beralasan para produsen Typhoon lebih mau berbagi ilmu atau transfer teknologi. Bahkan, sangat mungkin PT DI diberi lisensi memproduksi beberapa suku cadang. "Kalau pesawat buatan Amerika dan Rusia tak ada transfer teknologi," kata si sumber. Berdasarkan Undang-Undang Industri Strategis, pembelian alat utama sistem persenjataan dari luar negeri harus disertai dengan alih teknologi.

Direktur Teknologi Penerbangan PT DI Andi Alisjahbana tak mau berkomentar tentang usulan perusahaannya. Dia hanya mengatakan pengadaan persenjataan sebaiknya tak hanya melihat kecanggihannya. "Tapi diperhatikan pula kesediaan negara pembuat untuk membagi teknologi dengan industri dalam negeri," katanya.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto menanggapi positif usulan Typhoon sebagai pengganti F-5 Tiger. Musababnya, Typhoon punya kemampuan relatif sama dengan calon pengganti lainnya.

Hadi juga menilai pembelian Typhoon bakal menambah varian pesawat tempur Angkatan Udara. "Tapi keputusan pembeliannya berada di Kementerian Pertahanan." Sejumlah pilot tempur yang ditemui Tempo justru menilai pemerintah seharusnya membeli Sukhoi Su-35. Pesawat ini dianggap superior di udara dan menimbulkan efek gentar bagi negara tetangga.

(Tempo)

Rabu, 23 April 2014

Tambah 58 F-35, Australia Perkuat Pertahanan Udara


ABC Australia - detikNews

Jakarta - Australia semakin memperkuat pertahanan udaranya dengan menambah 58 pesawat tempur jenis F-35 generasi terbaru. Dengan demikian, kekuatan pertahanan udara Australia akan didukung 72 pesawat F-35 yang akan mulai aktif tahun 2020.

Pemerintah telah menyatakan persetujuan bagi penambahan pesawat tempur itu yang akan menelan biaya sebesar 12,4 miliar dollar (Rp 120 triliun lebih).

Total harga keseluruhan pesawat tempur F-35 ini menjadi aset pertahanan Australia yang paling mahal.

Pemerintah juga mempertimbangkan pembelian pesawat tempur generasi terbaru bagi skuadron RAAF'S F/A-18 Super Hornets.

Perdana Menteri Tony Abbott, Rabu (23/4/2014) diharapkan mengumumkan rencana pembelian ini. Menurut Abbott, peswat tempurjenis ini merupakan yang paling canggih yang tersedia saat ini.

"Bersama kuadron Super Hornet dan Growler, pesawat F-35 akan memastikan kekuatan udara Australia tetap yang terdepan di kawasan," katanya.

"Pesawat F-35 ini akan menambah kemampuan intelijen dan pengintaian angkatan bersenjata kita. Pembelian ini juga akan membawa manfaat ekonomis bagi industri lokal di Australia," jelas PM Abbott
Pesawat tempur f-35 akan tiba di Australia tahun 2018 mendatang dan mujlai dioperasikan tahun 2020.

Sebagai bagian pembelian ini, pemerintah juga akan mengeluarkan dana 1,6 miliar dollar bagi pembangunan pangakalan udara baru di Williamtown, New South Wales, dan di Tindal, Wilayah Utara.

Pesawat tempur F-35 disebut-sebut sebagai yang paling canggih saat ini dengan kemampuan antara lain melakukan serangan udara dan darat tanpa terdeteksi radar.

Namun pengembangan jenis pesawat ini di Amerika sempat tertunda dan juga terkendala biaya yang sangat mahal.
Sumber detik

Rabu, 09 April 2014

Kenapa Pesawat Kepresidenan RI Berwarna Biru?


Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jakarta - Pesawat Boeing Business Jet-2 milik presiden Indonesia didominasi warna biru yang dibalut dengan garis merah putih. Apa alasan pemerintah memilih desain tersebut?

Mensesneg Sudi Silalahi mengatakan, warna tersebut bukan ditentukan oleh Presiden SBY namun ada pertimbangan khusus dari desainer.

"Memang kenapa apa ada masalah dengan warna? Lagipula warna ini bukan pilihan Presiden untuk menentukan, kenapa biru, di sini ada desainer juga," kata Sudi usai upacara serah terima pesawat di Halim Perdanakusumah, Jaktim, Kamis (10/4/2014).

Menurut Sudi, faktor keamanan jadi salah isu yang mendasari pemilihan warna tersebut. "Warna biru di dalam arti security penerbangan. Warna biru bisa berkamuflase sehingga bisa sama dengan warna langit," ungkapnya.

Sejak awal, ada 14 alternatif warna yang diajukan pada pemerintah. Setelah dilakukan polling ke beberapa pejabat terkait, akhirnya dipilihlah desain tersebut.

"Sesuai juga dengan warna seragam milik TNI AU yang warna biru karena nanti pesawat ini akan dioperasikan Angkatan Udara. Saya kira itu ya dan cukup jelas," tegasnya.

Pesawat tersebut kini sudah berada di Halim untuk dites dan dicek kelayakannya. Rencananya, Presiden SBY baru akan menggunakannya dalam waktu dekat.
Sumber : Detik

Pesawat Biru' RI-1 Punya Sensor Canggih Pendeteksi Peluru Kendali


Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jakarta - Pesawat Kepresidenan RI memiliki spesifikasi keamanan yang diklaim canggih. Boeing Business Jet-2 yang didominasi warna biru itu mampu mendeteksi rudal atau peluru kendali yang mendekat.

"Dalam aspek security, jika ada ancaman peluru kendali pesawat ini memiliki sensor sehingga memberikan warning untuk langkah selanjutnya," kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI IB Putu Dunia usai acara serah terima pesawat di Halim Perdanakusumah, Jaktim, Kamis (10/4/2014).

Letkol (Pnb) Firman, salah satu perwakilan TNI AU yang ikut dalam penerbangan dari AS tersebut mengatakan, pesawat Kepresidenan RI bisa mengetahui juga keberadaan pesawat lain. Radar yang dipasang di dalamnya sangat canggih.

"Selain itu dia ada pemancar panas untuk defence," tambahnya.

Apakah pesawat itu punya fungsi perlawanan? "Nggak, ini nggak punya peluru kendali untuk perlawanan," jawabnya.

Pesawat tersebut tiba sekitar pukul 10.00 WIB di bandara Halim Perdanakusumah, Jaktim. Nantinya, operasional pesawat akan diserahkan ke TNI AU.
Sumber detik